KONSTRUKSI MAKNA KOMUNIKASI RHOTACISM
(Studi Fenomenologi Dalam Pemaknaan Profesi Komunikasi Pada Penderita Rhotacism)
Abstract
ABSTRACT
Rhotacism, defined as an articulation disorder of the /r/ phoneme, presents significant challenges for individuals pursuing communication-based professions, where fluency and clarity are often seen as markers of credibility and professionalism. This study aims to explore how individuals with rhotacism construct communicative meaning within their professional roles, focusing on the processes of externalization, objectivation, and internalization of their unique vocal experiences. Employing a qualitative method with a transcendental phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation with rhotacism-affected individuals engaged in public communication. The findings reveal that a lisped or “cadel” voice is not merely perceived as a limitation but can serve as a source of identity, creativity, and social capital. Informants developed adaptive linguistic strategies, fostered self-acceptance, and reframed stigma into a distinctive characteristic that strengthens professional interaction. These insights highlight how phonetic limitations can be reinterpreted as symbolic assets enriching communication practices. The study implies the importance of broader recognition of vocal diversity in communication professions and calls for more inclusive institutional policies to support individuals with articulation differences.
Keywords: Rhotacism, meaning construction, phenomenology, professional communication, vocal identity
ABSTRAK
Rhotacism sebagai gangguan artikulasi fonem /r/ menghadirkan tantangan signifikan bagi individu yang menekuni profesi komunikasi, di mana kefasihan berbicara dipandang sebagai syarat utama kredibilitas dan profesionalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggali bagaimana penderita rhotacism mengonstruksi makna komunikasi dalam profesi mereka, meliputi proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi atas pengalaman vokal yang berbeda. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi transendental, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta dokumentasi terhadap individu penderita rhotacism yang aktif di bidang komunikasi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suara cadel tidak hanya dipersepsikan sebagai keterbatasan teknis, tetapi juga menjadi sumber identitas, kreativitas, serta modal sosial. Informan mengembangkan strategi linguistik adaptif, membangun penerimaan diri, dan mengubah stigma menjadi ciri khas yang memperkuat interaksi profesional. Temuan ini menegaskan bahwa keterbatasan fonetik dapat dimaknai ulang menjadi kekuatan simbolik yang memperkaya praktik komunikasi. Implikasi penelitian ini mendorong pengakuan lebih luas terhadap keragaman vokal dalam profesi komunikasi serta perlunya kebijakan institusional yang lebih inklusif bagi individu dengan perbedaan artikulasi.
Kata Kunci: Rhotacism, konstruksi makna, fenomenologi, komunikasi profesional, identitas vokal
